Mengapa membeli saham undervalued bisa menguntungkan?
Value Investing adalah strategi investasi yang mengutamakan pembelian saham yang dianggap undervalued atau diperdagangkan lebih rendah daripada nilai intrinsiknya. Teknik ini berfokus pada perusahaan yang memiliki fundamental yang baik, namun sementara waktu harga sahamnya turun atau terabaikan oleh pasar.
Beberapa prinsip utama dalam Value Investing adalah:
Strategi Value Investing sangat bergantung pada mencari saham perusahaan yang diperdagangkan dengan harga diskon (undervalued). Ini berarti saham perusahaan tersebut diperdagangkan lebih rendah dari nilai intrinsiknya, memberi peluang bagi investor untuk membeli dengan harga lebih murah dibandingkan dengan nilai yang sebenarnya.
Bagaimana cara mengetahui saham yang diskon? Salah satu cara adalah dengan menggunakan analisis rasio keuangan seperti Price-to-Earnings (P/E) Ratio, Price-to-Book (P/B) Ratio, dan Dividend Yield. Jika perusahaan menunjukkan rasio yang lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata industrinya, ini bisa menjadi indikator bahwa saham tersebut undervalued.
Sebagai contoh penerapan Value Investing, kita dapat melihat perusahaan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Perusahaan ini memiliki rekam jejak keuangan yang solid dan fundamental yang baik, namun harga sahamnya terkadang terabaikan oleh pasar.
Berikut adalah beberapa indikator keuangan utama yang digunakan dalam Value Investing untuk menilai apakah saham BBRI undervalued:
| Tahun | Laba Bersih (Rp Triliun) | Pertumbuhan Aset (Nominal, Rp Triliun) | Pertumbuhan Aset (%) | ROE (%) | ROA (%) | CAR (%) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 2023 | 60,4 | 141,5 | 7,7% | 24,7% | 3,1% | 24,1% |
| 2022 | 51,4 | 99,3 | 5,6% | 23,3% | 2,7% | 23,5% |
| 2021 | 42,0 | 94,0 | 4,9% | 20,9% | 2,6% | 22,8% |